Jumat, 30 Oktober 2009

perubahan perilaku setelah promosi kesehatan

Perubahan Perilaku Setelah Promosi Kesehatan


Kelompok:
Eka Sarlina (S.08.345)
Letty Febrilyana (S.08.356)
Nur Rahmana Arfia (S.08.367)
Silvia Septiani (S.08.378)
Yulida Dewi Oktafina (S.08.389)

AKADEMI KEBIDANAN SARI MULIA
BANJARMASIN
2009/2010

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas nikmat, karunia, dan rahmat-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Perubahan perilaku setelah promosi kesehatan” ini.
Dalam pembuatan karya tulis ini penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan karuniaNya kepada kami sehingga dapat melakukan segala aktifitas dengan semaksimal mungkin.
2. Bapak Husin selaku koordinator mata kuliah Promosi Kesehatan yang telah memberi kesempatan kami belajar dalam pembuatan makalah ini.
3. Tim Dosen yang telah memperluas wawasan kami.
Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penulisan karya tulis ini. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran-sarannya. Semoga karya tulis ini bisa berguna bagi setiap orang yang membacanya.

Banjarmasin, oktober 2009

Penulis






BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Promosi Kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya. (Health promotion is the process of enabling people to control over and improve their health). Promosi kesehatan mencakup pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan. Promosi kesehatan juga mencakup pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye. Promosi kesehatan adalah juga upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi. Promosi kesehatan juga merupakan upaya peningkatan (promotif), yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Promosi kesehatan juga mencakup upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk mempengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana dan lain-lain di berbagai bidang/sektor, sesuai keadaan). Promosi kesehatan adalah juga pengorganisasian masyarakat (community organization), pengembangan masyarakat (comm. Development), penggerakan masyarakat (social mobilization), pemberdayaan masyarakat (comm. Empowerment), dll. Ruang lingkup Promosi kesehatan bisa lebih luas lagi, sesuai dengan keadaan dan perkembangan.
Kesehatan adalah hak asasi manusia dan merupakn investasi, juga merupakan karunia Tuhan, oleh karenanya perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Promosi kesehatan sangat efektif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan tersebut;
Faktor perilaku dan lingkungan mempunyai peranan sangat dominan dalam peningkatan kualitas kesehatan, dan merupakan pilar-pilar utama dalam pencapaian Indonesia Sehat 2010. hal-hal tersebut merupakan bidang garapan promosi kesehatan.
Masalah perilaku menyangkut kebiasaan, budaya, dan masalah-masalah lain yang tidak mudah diatasi. Untuk itu semua perlu peningkatan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk hidup sehat, perlunya pengembangan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat, dan untuk itu diperlukan peningkatan upaya promosi kesehatan.
Sementara itu Promosi Kesehatan telah ditetapkan sebagai salah satu program unggulan, sehingga perlu digarap secara sungguh-sungguh dengan dukungan sumber daya yang memadai.
Pada dasawarsa sekarang, kita mengalami transisi epidemiologi, transisi demografi, dll, di pihak lain permasalahan juga semakin kompleks dengan berbagai krisis yang belum kunjung reda. Selain itu kita juga sedang dalam era globalisasi dan disentralisasi. Itu semua justru semakin memperkuat perlunya peningkatan upaya promosi kesehatan.
Sementara itu Peraturan dan perundangan yang ada memberikan landasan hukum yang cukup kuat terhadap penyelenggaraan promosi kesehatan
B.MASALAH
1.Apa saja perilaku setelah promosi kesehatan?
2.Apa saja faktor-faktor perubahan perilaku setelah prmosi kesehatan?
3.Jelaskan :
a.Implikasi perubahan individu
b.Implikasi perubahan kelompok
c.Implikasi perubahan massa
4.Apa saja hubungan promosi kesehatan dengan perilaku?

C.TUJUAN
Makalah ini dibuat sebagai pedoman atau acuan kami dalam upaya mengetahui perubahan perilaku setelah promosi kesehatanserta mengembangkan sumber daya dan kemampuan khususnya bagi penulis dalam memberikan pelayanan promosi kesehatan kepada masyarakat.

D.MANFAAT
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai perubahan perilaku setelah promosi kesehatan serta sebagai bahan dalam peningkatan promosi kesehatan.






BAB II
PEMBAHASAN
Perubahan perilaku setelah promosi kesehatan

Promosi kesehatan merupakan intervensi atau upaya yang ditujukan kepada perilaku yang kondusif untuk kesehatan agar individu, kelompok dan masyarakat mempunyai perilaku yang positif terhadap pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan. Skinner, mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil hubungan antara peransang (stimulus) dan tanggapan (respon). Secara operasional perilaku diartikan sebagai suatu respon seseorang terhadap rangsangan (stimlus) dari luar subjek.Menurut Bloom, membagi perilaku manusia kedalam 3 domain (ranah) yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Ketiga ranah tersebut diukur melalui : pengetahuan (knowledge) sikap/tanggapan (attitude) dan praktek (practical).
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu yang terjadi setelah seseorang malakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
2. Sikap
Menurut Likert (Azwar, 1995) sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan seseorang terhadap satu objek perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable).
3. Praktek atau Tindakan
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung yang memungkinkan, antara lain fasilitas dan dukungan (support). Praktek meliputi beberapa tingkat antara lain:
a. Persepsi adalah mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.
b. Respon terpimpin yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar.
c. Mekanisme yaitu apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis dan sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.
d. Adaptasi adalah suatu praktek yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi sendiri tanpa mengurangi kebenaran.

Faktor-Faktor Perubahan Perilaku
1.Menurut Ajzen dan Fishbein (1980) dalam Teori “Behavioral Intention theory“ atau Theory of reasoned Action, yang menghubungkan antara keyakinan (beliefs),sikap(attitude),kehendak/intensi (intention), dan perilaku seseorang. Menyatakan bahwa intensi merupakan prediktor terbaik dari perilaku, dan Sikap merupakan hasil pertimbangan untung dan rugi dari perilaku tersebut(outcomes of the behavior).
2.Menurut Mantra (1997), Perilaku ialah respon individu terhadap stimulasi, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Perubahan perilaku perlu waktu yang lama dan diperlukan rangsangan untuk merubah perilaku. Rangsangan tersebut meliputi: rangsangan fisik, rangsangan rasional, rangsangan emosional, ketrampilan, jaringan perorangan dan keluarga (Family and personal Network), struktur sosial, biaya ekonomi dan sosial serta perilaku yang bersaing.
3.Menurut Ewles dan Simnett (1994), promosi kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol terhadap, dan memperbaiki, kesehatan mereka.
4.Menurut Depkesos (2000), promosi kesehatan adalah upaya pemberdayaan lingkungannya. Memberdayakan adalah upaya untuk membangun daya atau mengembangkan kemandirian, yang dilakukan dengan menimbulkan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta dengan mengembangkan iklim yang mendukung kemandirian tersebut
5.Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan/memandirikan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat, (Dachroni dkk,2000).
Konsep perubahan perilaku menurut L. Green (1980), menyatakan bahwa perilaku seseorang akan berubahan dapat diupayakan melalui usaha-usaha pendidikan kesehatan (health education) dan atau promosi kesehatan. Sedangkan keberhasilan pendidikan kesehatan dan atau promosi kesehatan menurutnya, antara lain dipengaruhi oleh faktor pendukung (predisposing), meliputi aspek pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, paraktek dan kebiasaan, dan dipengaruhi oleh faktor pemudah (enabling), seperti potensi sumber daya masyarakat, keterjangkuan, tersedianya fasilitas kesehatan, dll, serta faktor pendukung (reinforcing), seperti sikap & perilaku petugas kesehatan, dukungan toma, saran keluarga, teman dan bantuan masyarakat.

Adapun beberapa macam implikasi perilaku
a. Implikasi Perilaku Individu
Perilaku seseorang menurut Kurt Lewin, harus dilihat dalam konteksnya, artinya dalm situasi dan kondisi apa perilaku itu terjadi. Perhatian pada dua konteks ini penting, karena perilaku manusia bukan sekedar respons terhadap stimulan yang diterimanya saja, akan tetapi merupakan produk akhir atau resultan dari berbagai gaya yang mempengaruhinya secara spontan. Perilaku individu dalam akan terwujud dalam di lingkungan kelompoknya.


b. Implikasi Perilaku Kelompok
Malkolm and Knowles (1975), kualifikasi perilaku berkelompok:
1. Keanggotaan yang jelas, teridentifikasi melalui nama atau identifikasi lainnya.
2. Adanya kesadaran kelompok, dimana semua sadar dan berpersepsi mereka adalah bagian dari kelompok dan sementara di luar mereka adalah bukan kelompoknya.
3. Suatu perasaan adanya kesamaan tujuan
4. Saling ketergantungan dalam upaya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kelompok dan individu
5. Terjadinya interaksi, berkomunikasi dan mempengaruhi dalam melakukan aktifitasnya.
6. Kemampuan untuk berperilaku dengan cara tertentu yang telah disepakati kelompok.
Perilaku kelompok dalam kaitannya dengan perilaku sehat, dapat dikelompokkan menjadi:
1) perilaku sehat kelompok temporer, yaitu perilaku dari sekelompok orang terhadap objek kesehatan yang bersifat sementara, dimana bila tujuan kelompok telah tercapai, maka kelompok tersebut membubarkan diri, contoh kelompok ibu hamil yang mengikuti senam hamil atau mengikuti tabulin, JPKM dan lainnya
2) perilaku sehat kelompok permanent, yaitu perilaku kelompok terhadap objek kesehatan yang bersifat “abadi” sesuai dengan kesepakatan atau komitment-nya, sampai tujuannya tercapai. Contohnya keluarga sehat, dimana satu keluarga besar (nuclear family) terdiri dari Kakek, Nenek, Bapak, Ibu dan anak-anaknya bersepakat untuk hidup bersih dan sehat.
c. Implikasi Perilaku Massa
Individu-individu yang mempunyai minat yang sama dan merasa saling memiliki membentuk sebuah masyarakat dan individu-individu yang mempunyai ikatan emosional dan ikatan primordial yang sama akan membentuk massa. Di masyarakat orang biasanya mempunyai norma yang sama, sejarah yang sama (atau latar belakang) dan menerima bentuk perilaku tertentu dari sekumpulan individu-individu sebagai bentuk perilaku yang normal bagi semua anggota masyarakat. Perilaku-perilaku dari sekumpulan individu tersebut pada mulanya hanya menjadi perilaku kelompok, kemudian seiring dengan berjalannya waktu, maka perilaku kelompok bertambah individu-individu baru yang mempunyai kesamaan norma, latar belakang budaya, keturunan, ras dan hubungan darah. Pertambahan individu baru tersebut kemudian bertambah banyak dan pada titik tertentu terjadilah kesepakatan dan kesepahaman membentuk perilaku masyarakat (WHO, 1992).
Perbedaan perilaku masyarakat dengan perilaku massa terletak pada kekuatan ikatan emosional dan primordial tersebut. Perilaku masyarakat cenderung permanen & stabil sesuai dengan keberadaan masyarakat itu sendiri, sedangkan perilaku massa cenderung lebih temporer dan instabil. Contoh perilaku masyarakat dalam membangun rumah, merayakan resepsi pernikahan, menguburkan jenazah, merayakan panen, menghadapi musim kemarau dan lainnya
Menurut Wayne (1979), yang melakukan pengkajian terhadap perilaku massa, kaitannya dengan program kesehatan menemukan, bahwa dalam upaya menggerakkan/memobilisasi perilaku massa agar mempraktekan pesan-pesan promosi kesehatan dalam kehidupannya, dapat dilakukan dengan menggunakan 4 pendekatan yaitu :
1. Pendekatan kesesuaian(compatibility approach),
2. Pendekatan pembentukan kebiasaan (habit formation),
3. Pendekatan pengontrolan arus komunikan(control of audience flows),
4. Pendekatan daya penarik massa(mass appeal)

Promosi Kesehatan & Perilaku
PENDIDIKAN / PROMOSI KESEHATAN + PENGETAHUAN +(SIKAP)+ PERILAKU KESEHATAN
(Yaitu perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan). Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan yang lainnya. Banyak teori tentang perubahan perilaku ini, antara lain akan diuraikan dibawah.
1. Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR)
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :
a. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.
b. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
c. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).
d Akhirnya. dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).
Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organisme ini, faktor reinforcement memegang peranan penting.

2. Teori Festinger (Dissonance Theory)
Finger (1957) ini telah banyak pengaruhnya dalam psikologi sosial. Teori ini sebenarnya sama dengan konsep imbalance (tidak seimbang). Hal ini berarti bahwa keadaan cognitive dissonance merupakan keadaan ketidakseimbangan psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu maka berarti sudah tidak terjadi ketegangan diri lagi dan keadaan ini disebut consonance (keseimbangan).
Dissonance (ketidakseimbangan) terjadi karena dalam diri individu terdapat 2 elemen kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah pengetahuan, pendapat, atau keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu stimulus atau objek dan stimulus tersebut menimbulkan pendapat atau keyakinan yang berbeda / bertentangan didalam diri individu sendiri maka terjadilah dissonance.
Sherwood dan Borrou merumuskan dissonance itu sebagai berikut :
Pentingnya stimulus x jumlah kognitif dissonance
Dissonance = --------------------------------------------------------
Pentingnya stimulus x jumlah kognitif consonance
Rumus ini menjelaskan bahwa ketidakseimbangan dalam diri seseorang yang akan menyebabkan perubahan perilaku terjadi disebabkan karena adanya perbedaan jumlah elemen kognitif yang seimbang dengan jumlah elemen kognitif yang tidak seimbang serta sama-sama pentingnya. Hal ini akan menimbulkan konflik pada diri individu tersebut.
Contoh : Seorang ibu rumah tangga yang bekerja di kantor. Di satu pihak, dengan bekerja ia dapat tambahan pendapatan bagi keluarganya yang akhirnya dapat memenuhi kebutuhan bagi keluarga dan anak-anaknya, termasuk kebutuhan makanan yang bergizi. Apabila ia tidak bekerja, jelas tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Di pihak yang lain, apabila ia bekerja, ia kuatir terhadap perawatan terhadap anak-anaknya akan menimbulkan masalah. Kedua elemen (argumentasi) ini sama-sama pentingnya, yakni rasa tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang baik.
Selain itu ada pula program promosi kesehatan di tempat kerja yang berhasil (successful health promotion programmes at work). Sekitar bulan juni 1992, heirich, erfurt dan foote secara rinci mempublikasikan dimensi program promosi kesehatan di tempat kerja. Dari penelitian terbaru yang mereka lakukan, tercatat 10 faktor yang menjadi pedoman dari program promosi kesehatan di tempat kerja :
* penetapan kebijakan promosi kesehatan yang konstruktif
* melakukan screening kesehatan ? Menentukan risiko kesehatan
* penetapan hubungan kerja dengan sumber daya yang sama
* merujuk pekerja untuk pengobatan lebih lanjut dan peningkatan intervensi kesehatan
* pemberian intervensi untuk peningkatan kesehatan ? Dengan menggunakan suatu pendekatan bertahap
* konseling ? Dilakukan secara reguler dan terus-menerus
* pengorganisasian masalah kesehatan kerja
* mengadakan konsultasi atas sistem dan kebijakan di tempat kerja ? Perubahan secara organisasi
* penilaian proses program secara terus-menerus dan upaya mengurangi risiko kesehatan pekerja
* penilaian secara berkala yang didasarkan pada kinerja program.

Mereka juga memberikan pendapat, ada sekitar 7 (tujuh) kegiatan yang mesti dilakukan dalam sebuah wellness program yang menyeluruh yakni ;
* pendidikan dan pengetahuan mengenai tekanan darah
* pengurangan kolesterol
* kontrol berat badan
* gizi secara umum
* penghentian merokok
* kebugaran fisik dan latihan teratur
* manajemen stress

Terbukti perilaku sehat pekerja yang meningkat dan terus-menerus terpelihara dengan menerapkan ke-7 (tujuh) kegiatan di atas. Sebuah study yang dilakukan di USA menunjukkan bahwa keuntungan maksimum dapat diperoleh dalam penerapan program promosi kesehatan di tempat kerja, bila setiap pekerja diberikan konseling dan tindak lanjut.











BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan informasi, pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup. Dengan demikian, hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan.
Memungkinkan masyarakat untuk belajar melalui kehidupan dalam menyiapkan diri mereka untuk semua tingkatannya dan untuk menangani penyakit dan kecelakaan sangatlah penting. Hal ini harus difasilitasi dalam sekolah, rumah, tempat kerja, dan semua lingkungan komunitas.
B. Saran
Sebaiknya kita berpartisipasi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang diberdayakan, disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses pemberdayaan. Dengan begitu, kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses.









Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan Repubik Indonesia.. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
http://id.wikipedia.org/wiki/promosi kesehatan, diakses tanggal 25 September 2008
Iqi, Iqbal, 2008, Promosi Kesehatan, dalam http://iqbal-iqi.blogspot.com, diakses tanggal 15 Oktober 2008.
Kapalawi, Irwandi, 2007, Tantangan Bidang Promosi Kesehatan Dewasa Ini, dalam Irwandykapalawi.wordpress.com, diakses tanggal 25 September 2008.
Tawi, Mirzal, 2008, Pemberdayaan Masyarakat dalam Promosi Kesehatan, diambil dari http://syehaceh.wordpress.com/2008/05/13/pemberdayaan-masyarakat-dalam-promkes, diakses tanggal 15 Oktober 2008
Taylor, Shelley E., 2003, Health Psychology, 5th edition, New York: McGraw Hill.
WHO, 1986, The Ottawa Charter for Health Promotion, Geneva: WHO, dari http://www.who.int/health promotion/conferences/previous/ottawa/en/, diakses tanggal 25 September 2008.
WHO, 1998, Health Promotion Glossary, Geneva: WHO.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar